Seni Menulis Puisi

Books 660 Comment
Seni Menulis Puisi are Kindle Akhirnya selesai juga saya membaca buku ini Selalu membaca buku apapun saya merasa kesusahan sebab selalu penuh perjuangan bagaimana saya mencuri waktu

Seni Menulis Puisi are Kindle Akhirnya, selesai juga saya membaca buku ini. Selalu membaca buku apapun saya merasa kesusahan, sebab selalu penuh perjuangan, bagaimana saya mencuri waktu dan mengatur waktu kerja, dikejar deadline, bahkan menuntaskan karya yang belum selesai. (malah CurCol!)Biasanya selesai membaca Novel atau Buku Non Fiksi saya akan merasa lega, lega karena mengetahui ending ceritanya, atau mendapatkan pencerahan. Lega: seperti bersin yang keluar dan membuat perasaan gatal di hidung hilang. Tetapi membaca buku ini!--ASTAGAAAA--Buku ini bukannya membuat saya lega, tapi gelisah, pernah saya nggak tidur gara-gara buku ini! Saya dikepung banyak ide sajak, Novel, cerpen, ketakutan, ketidakpastian hidup, kebahagiaan yang ganjil, padahal besoknya saya harus mengejar Meeting skenario. Saya melek 48 jam, selesai meeting pulang pagi, akhirnya saya tepar, tetapi sembari memeluk buku ini. Nggak hanya sekali, lebih dari dua kali. Bahkan ketika menanti sahabat saya di pinggir jalan, janjian satu jalan ke tempat kerja, saya sempatkan membaca buku ini(Astaga curcol lagi!) Buku ini membuat saya tergila-gila akan Seni Menulis Puisi.Disini Bintang pertama untuk Cover-nya, yang sangat nyeni, ada gulungan kertas yang sudah ada puisi tertulis, pena, lalu matahari di belakang gulungan kertas. Dan pemilihan background cover buku, warna persik muda bener nggak yah? Saya suka.Yang nggak saya suka, di Kantor Pos pasti ada pemeriksaan, reseknya, buku ini dicoblos memakai jarum dan ada tiga lubang di belakang buku milik saya ini. Plis deh pak, gue beli buku, bukan mesen bom!Lanjut... Bintang kedua, Paling seneng kalau beli buku dapet tanda-tangan penulisnya, seneng aja. Bagi saya mahal rasanya memiliki tanda-tangan penulis di bukunya. Untungnya, pas pesan Mas Hasta-nya saya ancam (hahahaha) Maturnuwun yah Mas tanda-tangannya di depan halaman. Nggak percaya ada tanda-tangannya, cek dong Videonya di Youtube, search aja, Seni Menulis Puisi, pasti nongol.Bintang ketiga: Untuk layout dalam, yang saya kira awalnya buku setebel ini, pasti bakal lama saya bacanya. Tetapi layout paragraf font-nya aduh enak banget, jaraknya lega. Font-nya juga ramah di mata. jadi saya sempet kaget awal-awal baca, walah dalam waktu satu jam saya udah di halaman 60 ajah, cepet banget saya bacanya. Bintang yang keempat: Betapa, saya benar-benar diworkshop oleh Mas Hasta lewat buku ini. Asiknya Buku ini membuat saya kenal, bagaimana memainkan gaya bahasa: yang paling terngiang di kepala saya: Asidenton. Nggak hanya itu, ada tentang bagaimana menangkap momen puitis, dan masih banyak lagi.Bintang yang kelima: Berkat buku ini, banyak sekali pengetahuan merangsek ke dalam kepala saya. Saya menjadi sedikit lebih cerdas berkat buku ini. Yang tadi nulis puisi asal-asalan kini menjadi tahu tekhniknya. Tapi saya merasa masih debu kok di luasnya Jagat Raya.Ada satu hal yang saya salah baca. Di halaman ix, tentang Pasal Buku Seni Menulis Puisi. Di Pasal Pertama saya salah membaca dan belum ngeh. Baru ngeh ya selesai ini. Disitu dikatakan bahwa Pasal Pertama: Buku ini ditulis tidak untuk mencetak pembaca menjadi penyair.Kata "Tidak" disitu, tidak saya baca dengan sadar. Jadi saya mengira, buku ini ditulis untuk mencetak pembaca menjadi penyair. Dan bodohnya, saya jejeritan dan pamer pada ibu serta adik saya, bahwa saya membaca buku keren yang bakal bikin saya menjadi penyair! Pas selesai baca tadi dan membuka hal Pasal di depan buku. Walah! Saya baru ngeh. Saya menggoblok-goblokan diri, membatin: Makanya kalo baca jangan ngebut mode on! di kira baca skenario! Baca ngetik udah kaya The Flash.Tetapi entah mengapa saya yakin dilubuk hati saya yang terdalam, entah seseorang di luar sana, yang juga membaca buku ini. Pasti juga memiliki hasrat yang sama dengan saya, barangkali juga salah baca persis saya. (berharap ada yang salah baca Hahahaha) Saya percaya. Sebab pasal pertama yang salah saya baca, di buku itulah yang mendorong saya untuk mempelajari apa yang buku ini suguhkan. Yang setiap malam-malam sepi membuat saya gelisah nggak keruan, dan membuat cara pandang saya berbeda. Sungguh berbeda. Saya semakin menghayati Hidup, dan merasa semua manusia adalah bola kaca yang pasti akan ambyar bila jatuh. Buku ini memang mengedukasi saya, saya ingat kata-kata Mbak Bertha di acara Sarah Sechan, tidak persis sama sih, tapi begini maksudnya. "Ketika orang melahirkan karya, karya itu harus bisa membuat yang membaca, menonton menjadi bertambah pintar."Dan buku ini membuat saya PINTAR! Hastag: JejingkrakanBerasaNaikKelas!Dan yang pasti buku ini pas banget dibaca Anak-anak SMA yang saya yakin, mereka sering diam-diam membuat puisi cinta untuk pacarnya terkasih. Saya yakin bibit-bibit itu haus akan pengetahuan cara membuat puisi yang benar (yang benar disini selalu menjadi acuan dan pertanyaan mereka) saya bilangnya sesuai koridor. Sisanya sekarang adalah kegelisahan yang berdebur di dalam diri saya. Ada badai yang belum lindap. Dan saya harus menaklukannya. Sendiri. Saya haturkan terima kasih--berdiri di podium Oscar--untuk Mas Hasta Indriyana, yang telah menulis buku ini, memeras otak, keringat. Hingga akhirnya terbit. Terima Kasih Penerbit Gambang yang mencetak dan menjual buku ini. Semoga bestseller, Amin. Kelak semoga waktu memberi saya tiket dimana saya bisa bertemu dan ngobrol dengan Mas Hasta. Biar Gusti yang memberi kejutan nanti. Selalu ditunggu karya-karya-nya.Selamat menikmati Hidup. Namaste _/|\_ . None. A viral Books Seni Menulis Puisi Akhirnya, selesai juga saya membaca buku ini. Selalu membaca buku apapun saya merasa kesusahan, sebab selalu penuh perjuangan, bagaimana saya mencuri waktu dan mengatur waktu kerja, dikejar deadline, bahkan menuntaskan karya yang belum selesai. (malah CurCol!)Biasanya selesai membaca Novel atau Buku Non Fiksi saya akan merasa lega, lega karena mengetahui ending ceritanya, atau mendapatkan pencerahan. Lega: seperti bersin yang keluar dan membuat perasaan gatal di hidung hilang. Tetapi membaca buku ini!--ASTAGAAAA--Buku ini bukannya membuat saya lega, tapi gelisah, pernah saya nggak tidur gara-gara buku ini! Saya dikepung banyak ide sajak, Novel, cerpen, ketakutan, ketidakpastian hidup, kebahagiaan yang ganjil, padahal besoknya saya harus mengejar Meeting skenario. Saya melek 48 jam, selesai meeting pulang pagi, akhirnya saya tepar, tetapi sembari memeluk buku ini. Nggak hanya sekali, lebih dari dua kali. Bahkan ketika menanti sahabat saya di pinggir jalan, janjian satu jalan ke tempat kerja, saya sempatkan membaca buku ini(Astaga curcol lagi!) Buku ini membuat saya tergila-gila akan Seni Menulis Puisi.Disini Bintang pertama untuk Cover-nya, yang sangat nyeni, ada gulungan kertas yang sudah ada puisi tertulis, pena, lalu matahari di belakang gulungan kertas. Dan pemilihan background cover buku, warna persik muda bener nggak yah? Saya suka.Yang nggak saya suka, di Kantor Pos pasti ada pemeriksaan, reseknya, buku ini dicoblos memakai jarum dan ada tiga lubang di belakang buku milik saya ini. Plis deh pak, gue beli buku, bukan mesen bom!Lanjut... Bintang kedua, Paling seneng kalau beli buku dapet tanda-tangan penulisnya, seneng aja. Bagi saya mahal rasanya memiliki tanda-tangan penulis di bukunya. Untungnya, pas pesan Mas Hasta-nya saya ancam (hahahaha) Maturnuwun yah Mas tanda-tangannya di depan halaman. Nggak percaya ada tanda-tangannya, cek dong Videonya di Youtube, search aja, Seni Menulis Puisi, pasti nongol.Bintang ketiga: Untuk layout dalam, yang saya kira awalnya buku setebel ini, pasti bakal lama saya bacanya. Tetapi layout paragraf font-nya aduh enak banget, jaraknya lega. Font-nya juga ramah di mata. jadi saya sempet kaget awal-awal baca, walah dalam waktu satu jam saya udah di halaman 60 ajah, cepet banget saya bacanya. Bintang yang keempat: Betapa, saya benar-benar diworkshop oleh Mas Hasta lewat buku ini. Asiknya Buku ini membuat saya kenal, bagaimana memainkan gaya bahasa: yang paling terngiang di kepala saya: Asidenton. Nggak hanya itu, ada tentang bagaimana menangkap momen puitis, dan masih banyak lagi.Bintang yang kelima: Berkat buku ini, banyak sekali pengetahuan merangsek ke dalam kepala saya. Saya menjadi sedikit lebih cerdas berkat buku ini. Yang tadi nulis puisi asal-asalan kini menjadi tahu tekhniknya. Tapi saya merasa masih debu kok di luasnya Jagat Raya.Ada satu hal yang saya salah baca. Di halaman ix, tentang Pasal Buku Seni Menulis Puisi. Di Pasal Pertama saya salah membaca dan belum ngeh. Baru ngeh ya selesai ini. Disitu dikatakan bahwa Pasal Pertama: Buku ini ditulis tidak untuk mencetak pembaca menjadi penyair.Kata "Tidak" disitu, tidak saya baca dengan sadar. Jadi saya mengira, buku ini ditulis untuk mencetak pembaca menjadi penyair. Dan bodohnya, saya jejeritan dan pamer pada ibu serta adik saya, bahwa saya membaca buku keren yang bakal bikin saya menjadi penyair! Pas selesai baca tadi dan membuka hal Pasal di depan buku. Walah! Saya baru ngeh. Saya menggoblok-goblokan diri, membatin: Makanya kalo baca jangan ngebut mode on! di kira baca skenario! Baca ngetik udah kaya The Flash.Tetapi entah mengapa saya yakin dilubuk hati saya yang terdalam, entah seseorang di luar sana, yang juga membaca buku ini. Pasti juga memiliki hasrat yang sama dengan saya, barangkali juga salah baca persis saya. (berharap ada yang salah baca Hahahaha) Saya percaya. Sebab pasal pertama yang salah saya baca, di buku itulah yang mendorong saya untuk mempelajari apa yang buku ini suguhkan. Yang setiap malam-malam sepi membuat saya gelisah nggak keruan, dan membuat cara pandang saya berbeda. Sungguh berbeda. Saya semakin menghayati Hidup, dan merasa semua manusia adalah bola kaca yang pasti akan ambyar bila jatuh. Buku ini memang mengedukasi saya, saya ingat kata-kata Mbak Bertha di acara Sarah Sechan, tidak persis sama sih, tapi begini maksudnya. "Ketika orang melahirkan karya, karya itu harus bisa membuat yang membaca, menonton menjadi bertambah pintar."Dan buku ini membuat saya PINTAR! Hastag: JejingkrakanBerasaNaikKelas!Dan yang pasti buku ini pas banget dibaca Anak-anak SMA yang saya yakin, mereka sering diam-diam membuat puisi cinta untuk pacarnya terkasih. Saya yakin bibit-bibit itu haus akan pengetahuan cara membuat puisi yang benar (yang benar disini selalu menjadi acuan dan pertanyaan mereka) saya bilangnya sesuai koridor. Sisanya sekarang adalah kegelisahan yang berdebur di dalam diri saya. Ada badai yang belum lindap. Dan saya harus menaklukannya. Sendiri. Saya haturkan terima kasih--berdiri di podium Oscar--untuk Mas Hasta Indriyana, yang telah menulis buku ini, memeras otak, keringat. Hingga akhirnya terbit. Terima Kasih Penerbit Gambang yang mencetak dan menjual buku ini. Semoga bestseller, Amin. Kelak semoga waktu memberi saya tiket dimana saya bisa bertemu dan ngobrol dengan Mas Hasta. Biar Gusti yang memberi kejutan nanti. Selalu ditunggu karya-karya-nya.Selamat menikmati Hidup. Namaste _/|\_

About Author

  • Hasta Indriyana Post author

    Hasta Indriyana Is a well-known author, some of his books are a fascination for readers like in the Seni Menulis Puisi book, this is one of the most wanted Hasta Indriyana author readers around the world.

One thought on “Seni Menulis Puisi

  • Akhirnya, selesai juga saya membaca buku ini Selalu membaca buku apapun saya merasa kesusahan, sebab selalu penuh perjuangan, bagaimana saya mencuri waktu dan mengatur waktu kerja, dikejar deadline, bahkan menuntaskan karya yang belum selesai malah CurCol Biasanya selesai membaca Novel atau Buku Non Fiksi saya akan merasa lega, lega karena mengetahui ending ceritanya, atau mendapatkan pencerahan Lega seperti bersin yang keluar dan membuat perasaan gatal di hidung hilang Tetapi membaca buku ini A [...]


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *