Lelaki Bukan Malaikat

Books 517 Comment
Lelaki Bukan Malaikat Author Mario F Lawi is a Kindle Mario F Lawi lahir di Kupang Februari Ia meraih NTT Academia Award kategori Sastra Kumpulan puisiny

Lelaki Bukan Malaikat Author Mario F. Lawi is a Kindle Mario F Lawi lahir di Kupang, 18 Februari 1991 Ia meraih NTT Academia Award 2014 kategori Sastra Kumpulan puisinya Memoria 2013 dipilih sebagai salah satu Buku Puisi Rekomendasi 2013 oleh Majalah Tempo Kumpulan puisinya Ekaristi 2014 dinominasikan dalam 10 Besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2014 dan dipilih sebagai Buku Puisi Terbaik 2014 oleh Majalah Tempo Ia bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora.. Semestinya tidak ada yang dilenyapkan dengan angkara Semesta adalah kelengangan yang menumbuhkan ilalang di antara gandum Para penuai masih terlelap sebab anggur terbaik yang terminum semalam disisihkan tuan rumah hingga akhir pesta Di sisi Nuh, Lot ikut menengadah Anggur dalam tempayan terakhir telah habis ditenggak Setelah air setelah api, mereka sama menanti, apa lSemestinya tidak ada yang dilenyapkan dengan angkara Semesta adalah kelengangan yang menumbuhkan ilalang di antara gandum Para penuai masih terlelap sebab anggur terbaik yang terminum semalam disisihkan tuan rumah hingga akhir pesta Di sisi Nuh, Lot ikut menengadah Anggur dalam tempayan terakhir telah habis ditenggak Setelah air setelah api, mereka sama menanti, apa lagi yang akan dimuntahkan langit ke atas mezbah yang kehilangan puja puji Mario Lawi dengan terampil telah memindahkan inti amanat Kitab Suci ke puisi dan menawarkannya kepada pembaca sebagai penghayatan dan pengalaman baru yang tidak lagi perlu dibatasi oleh keyakinan apa pun Sapardi Djoko Damono. Popular Ebook Lelaki Bukan Malaikat SAJAK-SAJAK BIBLIS“Jika Tuhan tak pernah ada, akankah kau tetap mencintainya?”─Mario F. Lawi, Life in TechnicolorSUATU hari, ada “mezbah yang kehilangan puja-puji”. Dan tak lama setelah itu ada, mungkin suatu kaum, “yang dilenyapkan dengan angkara”. Dengan pemahaman yang terbatas atas satu puisi, saya seperti mendengarkan kembali takdir manusia di masa para Nabi ketika hukuman atas kedurhakaan turun langsung dari Tuhan dalam bentuk bencana besar:Semestinya tidak ada yang dilenyapkan dengan angkara. Semesta adalah kelengangan yang menumbuhkan ilalang di antara gandum. Para penuai masih terlelap sebab anggur terbaik yang terminum semalam disisihkan tuan rumah hingga akhir pesta. Di sisi Nuh, Lot ikut menengadah. Anggur dalam tempayan terakhir telah habis ditenggak. Setelah air setelah api, mereka sama menanti, apa lagi yang akan dimuntahkan langit ke atas mezbah yang kehilangan puja-puji?Saya kira, dalam puisi Sepasang Hikayat ini, Mario F. Lawi berbicara tentang hikayat Nabi Nuh dan Nabi Lot. Pada beberapa riwayat yang agaknya mirip antara ajaran Islam yang saya anut dengan ajaran Katolik Mario (hal yang membuat saya bisa berbicara sedikit mengenai beberapa tema dalam puisi-puisi Mario), “air” merujuk pada banjir besar yang menghancurkan peradaban umat Nuh, sementara “api” merujuk pada letusan dan guncangan besar yang menghancurkan peradaban umat Lot. Pada sajak itu, Mario seakan-akan menggiring saya untuk menyadari bahwa para Nabi cenderung menikmati pertunjukan: Mario memakai kata “pesta” untuk peristiwa bencana tentang lenyapnya suatu peradaban itu; sementara Nuh dan Lot sama-sama nabi yang hanya bisa menunggu “pesta” itu usai sambil menenggak “anggur”. Nabi yang digambarkan Mario hampir mirip gambaran Nuh dalam sajak Nuh Goenawan Mohamad: seorang alim yang lega usai gelombang besar yang membunuh apa yang tak tinggal dalam bahteranya dan berkata, setelah daratan kembali tenang, “Keadilan, perkara besar itu, telah dibereskan Tuhan”. Di situ saya menyangka Nuh dan Lot melihat kedurhakaan sebagai sesuatu yang pantas mendapatkan celaka. Azab adalah hukuman bagi para “ilalang”─mereka yang tumbuh liar, yang menyulitkan penyebaran risalah-Nya─dan dengan begitu, merupakan pertolongan Tuhan bagi Nuh dan Lot─suatu kabar baik.Tapi benarkah turunnya azab yang keras adalah pertanda “angkara” Tuhan? Benarkah Tuhan “ganas” dan “cemburu”, seperti yang diseru Amir Hamzah? Benarkah Tuhan hanya menghendaki kota-kota “yang kukuh, patuh”: “Kota Nuh”?Tentu saja ada yang tak seluruhnya kita mengerti tentang iman dan Tuhan. Dan barangkali puisi tidak perlu meyakinkan. Kita tahu: iman benar-benar “proses pencarian yang tak mudah selesai”. Seperti kata Derrida: kita tak perlu selalu mencemaskan ambiguitas dan tak perlu selalu menuntut kejelasan makna.●●●Oleh karena pengalamannya mengikuti pendidikan seminari (saya mengetahuinya lewat tulisan M. Aan Mansyur dari interviu dengan Mario dalam situs Pindai), sajak Mario mengingatkan kita pada beberapa potong peristiwa dalam kitab suci: “Roh Kudus” (dalam puisi Life in Technicolor); “pastor tua”, “katedral”, “Sabat”, “Kristus”, “Yerusalem”, “Petrus” (Viva la Vida); “Taurat” (Death and All His Friends); “kerajaan surga” (Seekor Keledai Memasuki Kerajaan Surga); “danau Galilea”, “Lazarus” (Seekor Keledai di Depan Lubang Jarum); “perjamuan malam” (Memandangmu); “kamis putih” (Kamis Putih).Di antara beberapa sajak itu Mario seperti menukilkan khotbah para pastur. Khotbah itu seringkali menggugat, misalnya, dengan menyuarakan peringatan buat para “ilalang” yang gemar beragama hanya dalam puja dan sepi. Dalam Sajak Terakhir, Mario menulis bahwa “Surga adalah gelembung sabun/ yang penuh udara/ karena dijejali keluh-kesah orang-orang/ pasrah yang malas berusaha”. Saya rasa Mario ingin mengatakan agama bukan sebatas doa-doa, atau surga cuma jadi sesuatu yang tak berharga sebagai cita-cita. Sajak itu menampik gagasan bahwa manusia tak perlu bersusah payah untuk meraihnya. Apa yang tampak dari situ adalah himbauan untuk menerjemahkan ajaran agama sebagai kata kerja: iman harus ditunjukkan dalam suatu tata perilaku. Di sini puisi bukan lagi sekedar keindahan suasana atau ide. Puisi juga suara yang punya tendensi untuk menggerakkan. Bait “pohon yang tumbuh dari sebutir kecil/ iman tak bisa dihinggapi burung/ yang malas terbang dan memasrahkan tubuhnya/ pada aliran udara” adalah penegasan yang mengingatkan manusia (selain mengingatkan kita pada kitab suci yang kerap memberi amsal) bahwa iman bukanlah terdiri dari “malas” dan pasrah. Hidup seperti labirin berliku yang mesti diatasi, dan “berhenti bergerak” berarti membiarkan “sulur-sulurnya” menyeret kita ke dalam kegelapan.Gagasan tentang iman dalam puisinya terus muncul pada puisinya yang lain. Dalam Luna, 1, misalnya, Mario menghidupkan kembali sebuah perdebatan panjang manusia antara pedang, Tuhan, dan agama. Saya kutip Luna, 1 sebagian:Suaramu yang pasrah terdengar seperti doa orang-orang asing yang letih di tanah terjanji setelah menaklukan daerah yang mereka lalui dengan menegakkan pedang. Tuhan adalah dongeng yang diciptakan untuk menyertai mereka. Kau dan aku adalah sepasang tokoh yang terjebak di dalam dongeng itu.Secara sederhana, kata “tanah terjanji” yang sering kita dengar adalah Jerussalem. Kalau kita membaca buku-buku sejarah, kota Al-Quds memang dibanjiri darah beberapa kali. Salah satunya adalah serangan Pasukan Salib Pertama yang dipimpin Godfrey de Bouillon pada tahun 1099. Pada zaman itu nama Tuhan dipakai untuk meluaskan kekuasaan dengan “menegakkan pedang”. Dan Mario tahu ke mana ia akan bergerak dalam perdebatan: “menegakkan pedang” atas nama Tuhan dan agama adalah sesuatu yang ironis. Keyakinan bahwa menumpahkan darah (di “bumi”) selalu berpasangan dengan perintah Tuhan (perintah “langit”) adalah suatu jebakan. Ia seperti menyindir bahwa semua itu omong kosong, seperti dongeng.Kita tahu, tak ada kebahagian di situ. “Kebahagian,” tulis Mario, “adalah keadaan lain yang tak tersentuh” ketika satu kelompok “menegakkan pedang” atas satu kelompok lainnya. ●●●Saya rasa puisi Mario F. Lawi lebih memiliki kecenderungan mirip puisi Goenawan Mohamad dari sisi tidak menciptakaan tokoh baru dalam puisinya, meskipun latar belakang keduanya membuat perbedaan yang cukup kentara. Puisi-puisi Mario berusaha menggambarkan dan memunculkan tokoh-tokoh kitab suci seperti Magdalena, Yunus (Kesaksian Seorang Murid), Eva dan Adam (Ruang Tunggu, 3; Santa Maria, 2), Jesus (Sajak Terakhir), Lazarus si miskin (Seekor Keledai Di Depan Lubang Jarum), Maria/ Maryam (Santa Maria, 1; Santa Maria, 2), atau Musa dan Abraham (Seorang Ibu dan Tujuh Bersaudara). Tidak heran jika Mario lebih memilih kata biblis daripada religius untuk acuan terhadap puisi-puisinya (kata religius terlalu luas cakupannya). Sementara Goenawan Mohamad banyak mengambil tokoh dari sejarah, politik, atau legenda, seperti Orfeus, Usinara, Sita, Gatoloco, Allen Ginsberg, Aung San Suu Kyi, dan Frida Kahlo. Yang dilakukan Mario dan Goenawan cukup berbeda dengan, misalnya, Rendra, yang membuat tokoh ciptaannya sendiri dalam puisi, seperti Atmo Karpo, Rick, Betsy, Maria Zaitun, dll. Hal ini mungkin lebih kepada persamaan bahwa Mario dan Goenawan bukan seseorang yang sering mengarang cerita-cerita fiksi seperti Rendra.Dalam beberapa hal, cerita-cerita legenda, sejarah, atau peristiwa dalam kitab suci memiliki kesamaan: masa lalu yang terekam adalah masa lalu yang puitik dan nostalgik. Ada yang ekstrim dan anomali di situ, mungkin mukjizat atau yang serupa itu yang tak sepenuhnya kita tahu, mungkin misteri yang setengah tersembunyi dan separuhnya masih akan kita cari. Dalam sajak Mario, sebagai contoh, ekstrim itu muncul sebagai akibat dari kesetiaan Mario pada amanat kitab suci: cerita murung di bumi belum tentu cerita yang berakhir suram di akhirat. Seperti kisah Lazarus si miskin, misalnya.Memang hal-hal seperti itu memungkinkan sajak jadi berarti. Kita menghormat ke masa lalu, kepada amanat kitab suci, sekaligus memandang ke depan apa yang akan kita lakukan, apa yang akan terjadi. Masa depan, toh, tak lebih rumit dari masa lalu: para rasul telah menubuatkan adanya perang dan kehancuran manusia yang dimulai dari tanda-tanda di zaman ini─dengan kata lain, masih tentang misteri, sesuatu yang semisal azab.

About Author

  • Mario F. Lawi Post author

    Mario F Lawi lahir di Kupang, 18 Februari 1991 Ia meraih NTT Academia Award 2014 kategori Sastra Kumpulan puisinya Memoria 2013 dipilih sebagai salah satu Buku Puisi Rekomendasi 2013 oleh Majalah Tempo Kumpulan puisinya Ekaristi 2014 dinominasikan dalam 10 Besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2014 dan dipilih sebagai Buku Puisi Terbaik 2014 oleh Majalah Tempo Ia bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora.

One thought on “Lelaki Bukan Malaikat

  • SAJAK SAJAK BIBLIS Jika Tuhan tak pernah ada, akankah kau tetap mencintainya Mario F Lawi, Life in TechnicolorSUATU hari, ada mezbah yang kehilangan puja puji Dan tak lama setelah itu ada, mungkin suatu kaum, yang dilenyapkan dengan angkara Dengan pemahaman yang terbatas atas satu puisi, saya seperti mendengarkan kembali takdir manusia di masa para Nabi ketika hukuman atas kedurhakaan turun langsung dari Tuhan dalam bentuk bencana besar Semestinya tidak ada yang dilenyapkan dengan angkara Semest [...]


  • Kumpulan puisi ini, bagi saya, adalah seorang kekasih yang sulit dimengerti tetapi begitu nikmat dan cantik Banyak istilah yang tak saya mengerti serta nama nama tokoh cerita agama yang hanya pernah saya dengar saja Seluruh puisi dalam buku ini mengandung gambaran baik utuh pun setengah pun di bawah setengah alur cerita agama yang tak pernah lupa untuk menyisipkan amanat dengan cara yang begitu cerdik.


  • Books 102 2016 2 dari 5 bintang Buku ini saya rasa akan lebih mudah dipahami oleh teman teman yang menganut kristen karena banyak ajaran kitab yang dijadikan puisi didalam buku ini Terimakasih iJak untuk peminjaman bukunya







  • kita ini memang saling membutuhakan minim kalo nggak pernah baca Injil apalagi menyimpan kitab itu yah, kita perlu seorang teman nasrani, sekedar mentransalte kisah mereka untuk bisa membaca buku yang dibilang berat juga enggak, diomong ringan paham juga enggak lelaki bukan malaikat nya Mario F Lawi ini, buku ketiga setelah aksara amananuna nya Rio Johon dan pohon pohon sesawinya Y.B Mangun yang notabene ketiganya kesasar dipilih, istilahku sendiri kusebut crosslink background dimana aneka kosak [...]


  • kovernya bagus.puisi puisinya cukup baik.hanya saja, tersebab puisi puisi Mario diilhami dari alkitab, aku jadi kurang memahami maksudnya namun, aku sangat menghargai kepandaiannya dalam menulis puisi bikin kagum.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *